Tampilkan postingan dengan label Young Adult. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Young Adult. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

, , ,

[BOOK REVIEW] A untuk Amanda by Annisa Ihsani - Cerdas itu HANYA KEBERUNTUNGAN

                                                                                       


Judul buku: A Untuk Amanda
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-605-03-2631-3
Jumlah halaman : 264 halaman
Harga : 60.000



Sinopsis 
Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.

Review
A untuk Amanda adalah novel kedua karya Kak Annisa Ihsani. Novel yang mengangkat tema depresi pada anak SMA ini adalah novel bertema depresi pertama yang aku baca sebelum Under Water karya MarisaReichardt. Awalnya aku kira novel young adult bagus itu cuma dari luar negeri saja, ternyata Indonesia juga punya penulis hebat seperti Annisa Ihsani ini.

Sangat antusias dan tidak sabar membaca saat aku menonton review booktuber tentang novel ini. Apalagi tema yang diambil juga sangat jarang kan? 


“Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dengan hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna.”



Saat aku baca sinopsisnya, sedikit dari dalam diriku ikut menyetujui pemikiran Amanda tentang kepintaran itu hanyalah keberuntungan. Dan kalian tahu, aku bisa langsung ikut merasakan apa yang Amanda rasakan setelah membaca kutipan ini.


“Jadi, kurasa guru-guru cuma menilaiku berdasarkan reputasi. Seperti… aku cuma beruntung beberapa kali di awal dan dapat nilai bagus… lalu mereka terus memberiku A, bahkan di saat aku tidak pantas mendapatkannya. Kau mengerti maksudku?"


Aku paham Amanda gemas dengan orang-orang yang selalu menganggap dirinya pintar karena selalu mendapatkan nilai A, aku juga paham apa yang Amanda rasakan saat sahabat sekaligus pacarnya, Tommy menganggap Amanda ini haus pujian atau perhatian. Rasanya aku ingin teriak didepan Tommy bahwa pacarmu ini hanya perlu teman yang memahami pemikirannya. Atau Tommy seharusnya bisa kah, cukup mengangguk sambil berkata bahwa dirinya mengerti apa yang Amanda maksud dan rasakan? setidaknya itu akan menunjukkan bahwa dia adalah pacar yang pengertian. Ah kesalku masih tersisa ternyata.

Bicara tentang Tommy, biar aku ulas sedikit tentang Tommy. Tommy adalah sahabat dari kecilnya Amanda yang sudah naik pangkat menjadi pacar, dan Tommy tidak menyukai M&M's warna kuning. Sebenarnya Tommy ini cukup mengerti Amanda, dia adalah pacar yang baik dan juga sahabat yang baik. Akan tetapi ada kalanya Tommy tidak mengerti Amanda dan bertanya-tanya dengan pemikiran Amanda.


“Kau tidak butuh persetujuan saya, Amanda. Apa pun yang saya dan orang lain pikirkan, itu tidak penting. Satu-satunya hal yang berpengaruh adalah apa yang kaupikirkan tentang dirimu sendiri.”


Diawal halaman, aku diberitahu bahwa jenis depresi yang Amanda alami adalah Impostor Syndrome atau sindrom penipu. Amanda merasa dirinya hanya beruntung saat mendapatkan nilai A dan merasa semua yang orang lain pikirkan tentangnya adalah salah, dirinya menipu. Semua orang tertipu oleh keberuntungan yang dimilikinya. 

Semua itu berawal ketika salah satu guru yang sedang mengajar dikelasnya mengajukan sebuah pertanyaan, tapi tidak seperti biasanya, guru itu tidak menunjuk Amanda melainkan temannya. Amanda sudah tahu apa jawabannya, tapi temannya itu justru memiliki jawaban yang berbeda dengan Amanda. Amanda mengira dirinyalah yang benar, akan tetapi ternyata justru jawaban temannyalah yang benar. Amanda terkejut dan mencari tahu, dan memang benar dirinyalah yang salah. Dari saat itu dia merasa bahwa dia tidak pintar, selama ini dirinya hanya mendapatkan keberuntungan.

Dari narasi yang dibawakan, penulis seolah mengajak pembaca untuk tahu perjalanan Amanda, bagaimana Amanda yang tidak bisa berhenti berpikir sampai Amanda yang men-cap dirinya sebagai penipu. Pemikiran-pemikiran Amanda yang kelewat pintar itu ternyata tidak selamanya berdampak baik, terkadang menjadi biasa-biasa saja justru lebih baik. Itu yang aku simpulkan saat membaca pikiran Amanda.

Amanda tinggal dengan Ibunya yang merupakan seorang janda, Ayahnya sudah meninggal saat Amanda masih kecil. Tapi meskipun begitu kenangan-kenangan akan sang Ayah masih melekat dalam ingatannya. Meskipun Ibu Amanda ini cukup sibuk dengan pekerjaanya sebagai akuntan, Amanda masih mendapat perhatian penuh darinya.

Aku suka dengan sikap Ibu Amanda yang selalu sabar ketika menghadapi pemikiran Amanda yang seperti itu. Bagaimana dirinya yang mencoba menyuruh Amanda untuk tidak diam dikamar dan selalu memutar musik yang sama berulang-ulang, itu terasa sangat manis sekaligus memprihatinkan. 


“Aku sangat lelah dan merasa seperti karet yang direntangkan melebihi batas elastisitasnya. Yang ingin kulaku-kan hanyalah berbaring di tempat tidur dan tidak memikirkan apa-apa lagi.”


Selain menceritakan proses yang dilalui Amanda untuk depresinya, penulis juga membuatku flashback dengan menceritakan kebingungan Amanda saat akan memilih Universitas. Bedanya Amanda bisa masuk universitas mana saja dengan mudah sedangkan aku tidak, haha! 

Yah, sedikit disayangkan memang, dengan semua yang Amanda miliki dirinya masih berpikir bahwa dirinya itu penipu. Namun, aku mendapatkan banyak sekali pembelajaran dari buku ini. Pesan yang ingin disampaikan penulis bisa dengan mudah tersampaikan pada pembaca. Meskipun ini kisah yang cukup berat, tapi penulis membuat semuanya mudah dipahami karena pengulis mengemasnya dengan ringan.

Membaca novel ini kalian akan diajak menjadi orang yang teoritis, cerdas, sarkas dan berhati-hati dalam mengambil tindakan. Narasinya yang mengalir dan dialognya yang keren membuatku sangat menyukai novel ini. Sampai-sampai aku berani memberi 5 bintang dari 5 untuk novel ini.

Oh iya, kak Annisa Ihsani ini orangnya ramah loh! kenapa aku bisa bilang begitu? karena aku pernah menemukan IG-nya dan mencoba untuk menyapa beliau di DM. Aku pikir tidak akan dibalas, tapi ternyata dibalas dengan ramahnya. 

Aku juga pernah memposting buku ini di Instagramku, tapi baru sempat posting sekarang. Maafkan :''

Jadi, siapkah kalian menyelami pemikiran Amanda yang rumit dan cerdas ini? 


Synopsis 

Amanda has one small problem: she's convinced that she's not as smart as she appears. His report card contained all A grades, he believed because luck was on his side. It seemed the teachers only asked him questions he happened to know the answer to.

But of course, it's impossible for anyone to be lucky all the time, right?

After thinking about it, it didn't seem like a small matter. Especially considering that his life is filled with a series of psychotherapy appointments. When she came home with a prescription for antidepressants, Amanda knew the problem was more complicated than she was ready to admit.

Amidst complications with her boyfriend, family, and school, Amanda must accept that she can't get A's in everything.

Review

A for Amanda is the second novel by Ms. Annisa Ihsani. This novel, which deals with the theme of depression in high school students, was the first depression-themed novel that I read before Under Water by Marisa Reichardt . At first I thought that good young adult novels only came from abroad, but it turns out that Indonesia also has great writers like Annisa Ihsani.

Very enthusiastic and can't wait to read when I watched the booktuber's review of this novel. Moreover, the themes chosen are also very rare, right? 

“I thought people got depressed when there was something wrong with their lives. But for me, depression comes when everything in my life is going perfectly.”

When I read the synopsis, a little part of me agreed with Amanda's idea that intelligence is just luck. And you know, I could immediately feel what Amanda felt after reading this quote.

“So, I guess the teachers just judged me based on reputation. Like… I just got lucky a few times in the beginning and got good grades… then they kept giving me A's, even when I didn't deserve them. Do you understand what I mean?"

I understand that Amanda is annoyed by people who always think they are smart because they always get A grades. I also understand what Amanda feels when her best friend and boyfriend, Tommy, thinks that Amanda is hungry for praise or attention. I feel like screaming in front of Tommy that your boyfriend just needs a friend who understands his thoughts. Or should Tommy be able to just nod and say that he understands what Amanda means and feels? at least it will show that he is an understanding boyfriend. Ah, my annoyance still remains.

Talking about Tommy, let me tell you a little about Tommy. Tommy is Amanda's childhood friend who has been promoted to boyfriend, and Tommy doesn't like yellow M&M's. Actually, Tommy understands Amanda quite well, he is a good boyfriend and also a good friend. However, there were times when Tommy didn't understand Amanda and wondered what Amanda was thinking.

“You don't need my approval, Amanda. Whatever I and others think, it doesn't matter. The only thing that matters is what you think about yourself.”

At the beginning of the page, I was told that the type of depression Amanda was experiencing was Impostor Syndrome . Amanda felt that she was just lucky when she got an A and felt that everything other people thought about her was wrong, that she was cheating. Everyone is deceived by the luck they have. 

It all started when one of the teachers who was teaching in his class asked a question, but unlike usual, the teacher didn't point to Amanda but his friend. Amanda already knew what the answer was, but her friend had a different answer to Amanda. Amanda thought she was right, but it turned out that her friend's answer was the right one. Amanda was shocked and found out, and it was true that she was in the wrong. From that moment on he felt that he was not smart, all this time he had only had luck.

From the narrative presented, the author seems to invite readers to know Amanda's journey, how Amanda couldn't stop thinking until Amanda branded herself as a fraud. Amanda's overly clever thoughts don't always have a good impact, sometimes being mediocre is actually better. That's what I concluded when reading Amanda's thoughts.

Amanda lives with her mother who is a widow. Her father died when Amanda was little. But even so, the memories of his father still linger in his memory. Even though Amanda's mother is quite busy with her work as an accountant, Amanda still gets her full attention.

I like Amanda's mother's attitude, who is always patient when dealing with Amanda's thoughts like that. How he tried to tell Amanda not to stay in the room and always play the same music over and over again, it felt very sweet and worrying at the same time. 

“I was so tired and felt like rubber had been stretched beyond its elastic limit. All I want to do is lie in bed and not think about anything else.”

Apart from telling about the process that Amanda went through for her depression, the author also gave me flashbacks by telling about Amanda's confusion when choosing a university. The difference is that Amanda can enter any university easily while I can't, haha! 

Well, it's a bit unfortunate, with everything Amanda has, she still thinks she's a fraud. However, I learned a lot from this book. The message the author wants to convey can easily be conveyed to the reader. Even though this is a quite heavy story, the author makes everything easy to understand because the author packages it lightly.

Reading this novel you will be invited to become a person who is theoretical, intelligent, sarcastic and careful in taking action. The flowing narrative and cool dialogue made me really like this novel. So much so that I dare to give 5 stars out of 5 for this novel.

Oh yes, Sis Annisa Ihsani is a friendly person! why can I say that? because I once found his IG and tried to greet him in DM. I thought there would be no reply, but it turned out to be a friendly response. 

I've also posted this book on my Instagram , but I've only had time to post it now. Sorry :''

So, are you ready to dive into Amanda's complicated and intelligent thoughts? 





Continue reading [BOOK REVIEW] A untuk Amanda by Annisa Ihsani - Cerdas itu HANYA KEBERUNTUNGAN

Sabtu, 15 Februari 2020

, , , ,

[Book Review] The Lunar Chronicles #1: Cinder by Marissa Meyer


Judul : Cinder
Penulis : Marissa Meyer
Penerbit : SPRING
Tebal : 384 halaman
Genre : Young Adult , Fantasy , Sci-fi
Harga Resmi : 79.000


SINOPSIS
Cinder adalah karya pertama Marissa Meyer dalam The Lunar Chronicles yang merupakan re-telling dari kisah Cinderella. Novel ini diterjemahkan pertama kali oleh Penerbit Spring pada januari tahun 2016. Novel ini menceritakan tentang Linh Cinder yang merupakan seorang mekanik di Persemakmuran Timur, New Beijing pada tahun 126 setelah perang dunia empat berakhir (dunia karangan penulis).

Cinder yang tinggal bersama Ibu tirinya, Adri dan juga kedua saudara tirinya Peony dan Pearl acapkali membuat Cinder merasa tersiksa dan ingin lari. Namun meskipun begitu dalam novel Cinder ini, salah satu saudara tirinya –Peony justru menyukai Cinder. Selain itu, Cinder memiliki sahabat berbentuk android yang bernama Iko. Iko selalu berada di sisi Cinder dan memiliki emosi layaknya manusia. Adapun hal yang membuat Cinder menjadi istimewa sekaligus berbeda dari yang lain, yaitu fakta bahwa dirinya adalah seorang cyborg yang mana manusia dengan beberapa bagian tubuh robot.

Hingga pada saat itu bumi diserang penyakit mematikan bernama Leutomosis. Wabah ini banyak memakan korban jiwa diseluruh penjuru bumi tak terkecuali Peony. Melihat keadaan yang semakin parah akhirnya Cinder tidak bisa tinggal diam, dirinya nekat untuk menemui peony yang sudah dikarantina secara diam-diam, yang karena itu juga menyebabkan dirinya tertangkap dan dijadikan kelinci percobaan. Disanalah dirinya bertemu dengan Dr. Erland yang nantinya akan mengantarkan Cinder pada fakta yang sebenarnya. Namun kerumitan yang terjadi pada Cinder bukan itu saja, karena dirinya yang seharusnya berbahagia dengan Pangeran Kaito, justru malah harus dihadapkan dengan banyak masalah terkait pernikahan pangeran Kaito dengan Ratu Levana –ratu bulan yang ingin menguasai bumi.





Review

Sebelum mengetahui bahwa novel ini adalah re-telling dari kisah Cinderella, aku kira novel ini adalah kisah Cinderella versi novel yang mana seratus persen isinya sama –Cinderella tinggal bersama Ibu dan saudara tirinya yang jahat, lalu setelah datang ke pesta dansa dan bertemu pangeran dirinya berakhir dengan hidup bahagia selamanya.

Tapi ternyata aku salah! Di novel ini bahkan tidak ada kisah cinta yang begitu gamblang, semuanya tampak samar-samar dan sangat sedikit. Meskipun retelling, yang berarti menceritakan kembali, tapi novel ini tetap istimewa karena hanya latar belakangnya saja yang sama, selebihnya jauh berbeda. Karena Marissa Meyer menambahkan unsur politik, fiksi ilmiah dan dunia futuristik yang jauh berbeda dengan dongeng. Dan yang lebih mencengangkannya lagi adalah bahwa Cinder adalah seorang Cyborg! Dimana dirinya dikucilkan karena bagian tubuh yang sebagian adalah robot.

Baca juga : [BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles #2: Scarlet by Marissa Meyer

Tokoh dengan karakter yang berbeda dari aslinya pun memberi kesan baru pada novel yang notabene retelling dari kisah Cinderella ini. Dan aku sangat sangat sangat suka! Tokoh yang kita tahu lemah lembut di diri Cinderella berubah menjadi tokoh yang kuat dan penuh ide cemerlang. Setting tempat dan alur yang berbeda serta penjabaran situasi yang mampu membuatku pergi menuju dunia baru dan asing ini sangat menyenangkan. Penulis berhasil membuatku penasaran dan ingin cepat-cepat baca halaman selanjutnya.

Selain Cinder, tokoh tambahan lainnya seperti Dr. Erland, Iko dan kapten Thorne juga ikut andil cukup banyak. Untuk aku yang mengharapkan setidaknya ada sedikit kisah romantis antara Cinder dan pangeran Kaito, justru harus sedikit menerima kenyataan bahwa porsi pangeran Kaito disini tidak terlalu banyak.

Aku justru teralihkan dan bahkan sempat melupakan pangeran Kaito karena keberadaan kapten Thorne dan Dr. Erland. Diam-diam aku juga berpikir bahwa Cinder yang sedikit pemarah dan tidak senang berbasa-basi ini justru cocok dengan kapten Thorne yang jenaka dan cerdas. Tapi pikiranku yang seperti itu berubah ketika membaca buku kedua dari series ini –Scarlet.

Dr. Erland adalah ilmuan kerajaan bertubuh kecil dan pendek yang penuh misteri. Aku sempat dibuat bingung dengan karakternya yang tidak terbuka dan tidak terlihat memihak pihak mana sebelum aku membaca ending.

Ada juga si android manis yang setia kawan milik Cinder bernama Iko. Tingkahnya yang manis dan unik membuat karakter Iko seperti anak kecil yang selalu mengkhawatirkan Cinder yang bertingkah nekat dan terlalu pemberani.

Tapi, ada juga yang membuatku sedikit kecewa dari novel ini. Aku sedikit kecewa dengan pangeran Kaito yang seperti tidak punya pendirian dan terlalu percaya kepada orang lain. Mirip seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa. Sepanjang membaca buku ini, khususnya bagian pangeran Kaito, aku selalu merasa kasihan sekaligus gemas.

Pangeran Kaito harus menanggung beban begitu besar, belum lagi tekanan yang dilayangkan oleh para presiden lain dan juga keresahan masyarakat yang terkena wabah. Bahkan ingin rasanya masuk kedalam buku dan memberi pundak untuk bersandar sebentar. Ups!

Selain itu, karena novel ini lebih banyak membahas wabah Leutomosis dan perlawanan terhadap ratu Levana, aku jadi teringat akan nasib Peony yang menyedihkan. Belum lagi Peony adalah satu-satunya saudara Cinder yang tidak memperlakukannya dengan buruk. Peony dan Cinder memiliki mimpi dan tujuan yang belum sempat tercapai karena keadaan Peony yang tidak memungkinkan. Dan kepergian Peony yang meninggalkan luka dihati Cinder pun bisa ikut aku rasakan.

Namun meskipun banyak kejadian menyedihkan dan menegangkan di novel ini, aku cukup senang karena ada tokoh tambahan lainnya yang menghibur seperti kapten Thorne. Aku yang sebelumnya sedih, tegang dan ikut berpikir keras untuk menyelesaikan masalah bersama Cinder, bisa tertawa begitu saja ketika membaca tingkah laku kapten yang satu ini. Entah itu karena sikap jahilnya, narsis dan kebodohan-kebodohan yang dibuatnya.

Secara menyeluruh aku suka novel ini dan tidak sabar untuk baca buku ketiganya yang berjudul Cress. Aku memberi 4 bintang dari 5. Tidak ada kekecewaan berlebih tentang novel ini. Aku suka dengan cara penulis menyampaikan narasi dan setting tempat yang begitu detail sampai pembaca bisa membayangkan dengan cukup mudah.

Terimakasi sudah mampir. Sampai jumpa di review selanjutnya ya!




Continue reading [Book Review] The Lunar Chronicles #1: Cinder by Marissa Meyer